Kampong Chyps

TAWA

January 30, 2010 · Leave a Comment

by chyps, 2004

Seorang tertawa didepan tatapan

Memutar kepala dengan gaya beratnya

Terlempar senyuman yang ramai

Menyalurkan hobbi yang terbawa

Mengisi hari2 ceria

Memulai sebuah cerita

Sesaat smua terdiam saja

Perubahan intonasi suara

Tiap detak-detik

Layaknya pompa

Hanya untuk membuat sebuah canda tawa

Slamanya dihadapan smua

Untuk mencari tawa semata

Dihimpit pikiran yang bertolak belakang

→ Leave a CommentCategories: Poems
Tagged: ,

BOILER

January 30, 2010 · Leave a Comment

Boiler adalah sebuah bejana tertutup yang berfungsi untuk mengubah wujud suatu fluida dari cair menjadi gas. Perubahan wujud tersebut terjadi karena penambahan kalor. Kalor yang ditambahkan dapat diperoleh dengan cara pembakaran bahan bakar fosil maupun non fosil, reaksi inti atom, ataupun merupakan gas buang dari sisa ekspansi turbin gas.

Sampai dengan saat ini secara umum dikenal dua macam jenis boiler yaitu Fire Tube Boiler (Boiler Tabung Api) dan Water Tube Boiler (Boiler Tabung Air). Water tube boiler mempunyai efisiensi yang lebih tinggi daripada fire tube boiler, khususnya yang membutuhkan panas tinggi atau tekanan tinggi, oleh karena itu boiler jenis ini banyak digunakan oleh industri yang dalam prosesnya membutuhkan tekanan tinggi.

JENIS-JENIS BOILER

Ada berbagai macam jenis boiler: Berdasarkan tempat fluida mengalir : Fire tube boiler, Water tube boiler, Berdasarkan proses pembakarannya: Fluidized bed combustion boiler, Atmospheric fluidized bed combustion boiler, Pressurized fluidized bed combustion boiler, Circulating fluidized bed combustion boiler, Stoker fired boiler, Pulverized fuel boiler, Boiler pemanas limbah (Waste heat boiler), Berdasarkan tekanan kerja: a. Low pressure (2-16 Kg/cm2), Medium pressure (17-30 Kg/cm2), High pressure (31-140 Kg/cm2), Super high pressure (141-225 Kg/cm2), Super critical pressure (Up to 226 Kg/cm2).

Fire Tube Boiler

Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada didalam shell untuk dirubah menjadi steam. Fire tube boilers biasanya digunakan untuk kapasitas steam yang relative kecil dengan tekanan steam rendah sampai sedang. Sebagai pedoman, fire tube boilers kompetitif untuk kecepatan steam sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2. Fire tube boilers dapat menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau bahan bakar padat dalam operasinya. Untuk alasan ekonomis, sebagian besar fire tube boilers dikonstruksi sebagai “paket” boiler (dirakit oleh pabrik) untuk semua bahan bakar.

Water Tube Boiler

Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk kedalam drum. Air yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakar membentuk steam pada daerah uap dalam drum. Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada kasus boiler untuk pembangkit tenaga. Water tube boiler yang sangat modern dirancang dengan kapasitas steam antara 4.500 – 12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak water tube boilers yang dikonstruksi secara paket jika digunakan bahan bakar minyak bakar dan gas. Untuk water tube yang menggunakan bahan bakar padat, tidak umum dirancang secara paket.

Karakteristik water tube boilers sebagai berikut:

  1. Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran
  2. Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan air.
  3. Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi.

Boiler Pembakaran dengan Fluidized Bed (FBC)

Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) muncul sebagai alternatif yang memungkinkan dan memiliki kelebihan yang cukup berarti dibanding sistim pembakaran yang konvensional dan memberikan banyak keuntungan rancangan boiler yang kompak, fleksibel terhadap bahan bakar, efisiensi pembakaran yang tinggi dan berkurangnya emisi polutan yang merugikan seperti SOx dan NOx. Bahan bakar yang dapat dibakar dalam boiler ini adalah batubara, barang tolakan dari tempat pencucian pakaian, sekam padi, bagas & limbah pertanian lainnya. Boiler fluidized bed memiliki kisaran kapasitas yang luas yaitu antara 0.5 T/jam sampai lebih dari 100 T/jam.

Bila udara atau gas yang terdistribusi secara merata dilewatkan keatas melalui bed partikel padat seperti pasir yang disangga oleh saringan halus, partikel tidak akan terganggu pada kecepatan yang rendah. Begitu kecepatan udaranya berangsur-angsur naik, terbentuklah suatu keadaan dimana partikel tersuspensi dalam aliran udara – bed tersebut disebut “terfluidisasikan”. Dengan kenaikan kecepatan udara selanjutnya, terjadi pembentuka gelembung, turbulensi yang kuat, pencampuran cepat dan pembentukan permukaan bed yang rapat. Bed partikel padat menampilkan sifat cairan mendidih dan terlihat seperti fluida “bed gelembung fluida/ bubbling fluidized bed”.

Jika partikel pasir dalam keadaan terfluidisasikan dipanaskan hingga ke suhu nyala batubara, dan batubara diinjeksikan secara terus menerus ke bed, batubara akan terbakar dengan cepat dan bed mencapai suhu yang seragam. Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) berlangsung pada suhu sekitar 840OC hingga 950OC. Karena suhu ini jauh berada dibawah suhu fusi abu, maka pelelehan abu dan permasalahan yang terkait didalamnya dapat dihindari. Suhu pembakaran yang lebih rendah tercapai disebabkan tingginya koefisien perpindahan panas sebagai akibat pencampuran cepat dalam fluidized bed dan ekstraksi panas yang efektif dari bed melalui perpindahan panas pada pipa dan dinding bed. Kecepatan gas dicapai diantara kecepatan fluidisasi minimum dan kecepatan masuk partikel. Hal ini menjamin operasi bed yang stabil dan menghindari terbawanya partikel dalam jalur gas.

DASAR TEORI BOILER

Boiling

Proses pemanasan air untuk mendapatkan steam merupakan proses yang sangat umum dilakukan oleh manusia. Secara termodinamika, cukup dengan menaikkan suhu air tersebut hingga mencapai titik yang diinginkan, hal ini dibutuhkan energy untuk menaikkan suhu atau merubah fase dari fase liquid menjadi fase gas. Contoh yang sederhana mengenai ini adalah alat kettle boiler.

Faktor teknis dan ekonomi yang sangat diperhatikan untuk menghasilkan steam dengan tekanan yang diinginkan adalah seberapa kecil energi yang dibutuhkan untuk mendapatkan steam yang sesuai.

Ada beberapa hala yang perlu diketahui mengenai boiler

Pressure (Tekanan)

Tekanan merupakan faktor penting dalam proses boiler. Tekanan proses yang diinginkan harus dijaga untuk menjamin kebutuhan steam sesuai tekanan yang dibutuhkan.

Temperature (Suhu)

Temperatur adalah panas kerja dalam boiler. Temperatur ini berbanding lurus dengan tekanan yang dihasilkan. Temperatur dan tekanan ini juga yang mencerminkan steam yang dihasilkan. Secara umum ada dua jenis steam yang dihasilkan:

Saturated steam

Temperature yang dihasilkan segaris dengan tekanan

Superheated steam

Temperatur yang dihasilkan sesuai dengan design yang direncanakan pada boiler.

Kapasitas

Kapasitas adalah kemampuan boiler untuk menghasilkan uap dalam satuan berat per waktu. Untuk mendapatkan kapasitas boiler, harus mengetahui effisiensi dari boiler dan jumlah bahan bakar yang digunakan.

Kalor yang diberikan bahan bakar x effisiensi = Kalor yang diterima fluida untuk menjadi uap

M DH = h (W) HV

Keterangan:

M = Kapasitas, Kg/Jam

DH = Perbedaan entalphy keluar dan masuk, Kcal/Kg

h = Effisiensi, %

W = Berat Bahan Bakar, Kg/Jam

HV = Heating Value, Kcal/Kg

untuk fiber : 2340 Kcal/kg

untuk shell : 3480 Kcal/kg

Efisiensi

Effisiensi merupakan suatu ukuran efektifitas panas, suatu ukuran persentase berapa banyak steam yang dihasilkan dalam setiap jumlah bahan bakar yang terbakar.

Neraca Panas

Proses dalam boiler tidak lepas dari penyusunan neraca panas. Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam gambar neraca energi. Energi masuk dari proses pembakaran bahan bakar diubah menjadi energi yang bisa digunakan untuk untuk berbagai kebutuhan. Dalam proses ini pasti ada kehilangan energi.

Neraca panas merupakan keseimbangan energi masuk dan yang keluar. Berikut ilustrasi proses termodinamika.

Sebagai contoh, berikut gambaran kehilangan energi yang mungkin dalam proses boiler dengan menggunakan bahan bakar batu bara.

Kehilangan energi dalam proses bisa dikategorikan kehilangan yang bisa dihindari dan yang tidak dapat dihindari. Pengkajian energi harus mengurangi kehilangan yang dapat dihindari, dengan meningkatkan efisiensi energi. Kehilangan dapat diminimalisasi:

-          Kehilangan panas di gas cerobong.

Udara berlebih diturunkan hingga batas udara minimum dibutuhkan.

Suhu gas cerobong dioptimalkan dengan pemeliharaan yang baik, teknologi boiler yang baik, dan lain-lain.

-          Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam ruang pembakaran, mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan.

-          Kehilangan waktu blowdown, pengolahan air umpan yang baik dan daur ulang kondensat.

-          Kehilangan kondensat.

-          Kehilangan konveksi dan radiasi ke lingkungan, dikurangi dengan mengisolasi boiler dengan baik.

Q in = Q use + Q loss

Blowdown Boiler

Jika air dididihkan dan dihasilkan steam, padatan terlarut yang terdapat dalam air akan tinggal di boiler. Jika banyak padatan terdapat dalam air umpan, padatan tersebut akan terpekatkan dan akhirnya akan mencapai suatu tingkat dimana kelarutannya dalam air akan terlampaui dan akan mengendap dari larutan. Diatas tingkat konsenrasi tertentu, padatan tersebut mendorong terbentuknya busa dan menyebabkan terbawanya air ke steam. Endapan juga mengakibatkan terbentunya kerak di bagian dalam boiler, mengakibatan pemanasan setempat menjadi berlebih dan akhirnya menyebabkan kegagalan pada pipa boiler. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan tingkat konsentrasi padatan dalam suspensi dan yang terlarut dalam air yang dididihkan. Hal ini dicapai oleh proses yang disebut ‘blowing down’, dimana sejumlah tertentu volume air dikeluarkan dan secara otomatis diganti dengan air umpan – dengan demikian akan tercapai tingkat optimum total padatan terlarut (TDS) dalam air boiler dan membuang padatan yang sudah rata keluar dari larutan dan yang cenderung tinggal pada permukaan boiler. Blowdown penting untuk melindungi permukaan penukar panas pada boiler. Walau demikian, Blowdown dapat menjadi sumber kehilangan panas yang cukup berarti, jika dilakukan secara tidak benar.

Blowdown yang sewaktu-waktu/intermittent

Blowdown yang sewaktu-waktu dioperasikan secara manual menggunakan sebuah kran yang dipasang pada pipa pembuangan pada titik terendah shell boiler untuk mengurangi parameter (TDS atau konduktivitas, pH, konsentasi Silica dan Fosfat) dalam batasan yang sudah ditentukan sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kualitas steam. Jenis blowdown ini juga merupakan metode efektif untuk membuang padatan yang telah lepas dari larutan dan menempati pipa api dan permukaan dalam shell boiler. Pada blowdown yang sewaktu-waktu, jalur yang berdiameter besar dibuka untuk waktu sesaat, yang didasarkan pada aturan umum misalnya “sekali dalam satu shift untuk waktu 2 menit”. Blowdown yang sewaktu-waktu menyebabkan harus ditambahkannya air umpan ke dalam boiler dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat, sehingga membutuhkan pompa air umpan yang lebih besar daripada jika digunakan blowdown kontinyu. Juga, tingkat TDS akan bervariasi, sehingga menyebabkan fluktuasi ketinggian air dalam boiler karena perubahan dalam ukuran gelembung steam dan distribusinya yang setara dengan perubahan dalam konsentrasi padatan. Juga, sejumlah besar energi panas hilang karena blowdown yang sewaktu-waktu.

Blowdown yang kontinyu

Terdapat pemasukan yang tetap dan konstan sejumlah kecil aliran air boiler kotor, dengan penggantian aliran masuk air umpan yang tetap dan konstan. Hal ini menjamin TDS yang konstan dan kemurnian steam pada beban steam tertentu. Kran blowdown hanya diatur satu kali untuk kondisi tertentu, dan tidak perlu lagi diatur setiap saat oleh operator. Walaupun sejumlah besar panas diambil dari boiler, tetapi ada peluang pemanfaatan kembali panas ini dengan mengembuskannya ke flash tank dan mengasilkan flash steam. Flash steam ini dapat digunakan untuk pemanasan awal air umpan boiler. Jenis blowdown ini umum digunakan pada boiler bertekanan tinggi. Residu blowdown yang meninggalkan flash vessel masih mengandung energi panas yang cukup dan dapat dimanfaatkan kembali dengan me masang sebuah penukar panas untuk memanaskan air make-up dingin. Sistim pemanfaatan kembali panas blowdown yang lengkap seperti yang digambarkan dibawah dapat memanfaatkan hingga 80% energi yang terkandung dalam blowdown, yang dapat diterapkan pada berbagai ukuran boiler steam dengan waktu

pengembalian modalnya bisa kembali hanya dalam beberapa bulan.

Keuntungan pengendalian blowdown

Pengendalian blowdown boiler yang baik dapat secara signifikan menurunkan biaya perlakuan dan operasional yang meliputi:

§ Biaya perlakuan awal lebih rendah

§ Konsumsi air make-up lebih sedikit

§ Waktu penghentian untuk perawatan menjadi berkurang

§ Umur pakai boiler meningkat

§ Pemakaian bahan kimia untuk pengolahan air umpan menjadi lebih rendah

Pengolahan Air Umpan Boiler

Memproduksi steam yang berkualitas tergantung pada pengolahan air yang benar untuk mengendalikan kemurnian steam, endapan dan korosi. Sebuah boiler merupakan bagian dari sistim boiler, yang menerima semua bahan pencemar dari sistim didepannya. Kinerja boiler, efisiensi, dan umur layanan merupakan hasil langsung dari pemilihan dan pengendalian air umpan yang digunakan dalam boiler.

Jika air umpan masuk ke boiler, kenaikan suhu dan tekanan menyebabkan komponen air memiliki sifat yang berbeda. Hampir semua komponen dalam air umpan dalam keadaan terlarut. Walau demik ian, dibawah kondisi panas dan tekanan hampir seluruh komponen terlarut keluar dari larutan sebagai padatan partikuat, kadang-kadang dalam bentuk Kristal dan pada waktu yang lain sebagai bentuk amorph. Jika kelarutan komponen spesifik dalam air terlewati, maka akan terjadi pembentukan kerak dan endapan. Air boiler harus cukup bebas dari pembentukan endapan padat supaya terjadi perpindahan panas yang cepat dan efisien dan harus tidak korosif terhadap logam boiler.

Pengendalian endapan

Endapan dalam boiler dapat diakibatkan dari kesadahan air umpan dan hasil korosi dari sistim kondensat dan air umpan. Kesadahan air umpan dapat terjadi karena kurangnya sistim pelunakan. Endapan dan korosi menyebabkan kehilangan efisiensi yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pipa boiler dan ketidakmampuan memproduksi steam. Endapan bertindak sebagai isolator dan memperlambat perpindahan panas. Sejumlah besar endapan diseluruh boiler dapat mengurangi perpindahan panas yang secara signifikan dapat menurunkan efisiensi boiler. Berbagai jenis endapan akan mempengaruhi efisiensi boiler secara berbeda-beda, sehingga sangat penting untuk menganalisis karakteristik endapan. Efek pengisolasian terhadap endapan menyebabkan naiknya suhu logam boiler dan mungkin dapat menyebabkan kegagalan pipa karena pemanasan berlebih.

Kotoran yang mengakibatkan pengendapan

Bahan kimia yang paling penting dalam air yang mempengaruhi pembentukan endapan dalam boiler adalah garam kalsium dan magnesium yang dikenal dengan garam sadah. Kalsium dan magnesium bikarbonat larut dalam air membentuk larutan basa/alkali dan garam-garam tersebut dikenal dengan kesadahan alkali. Garam-garam tersebut terurai dengan pemanasan, melepaskan karbon dioksida dan membentuk lumpur lunak, yang kemudian mengendap. Hal ini disebut dengan kesadahan sementara – kesadahan yang dapat dibuang dengan pendidihan.

Kalsium dan magnesium sulfat, klorida dan nitrat, dll, jika dilarutkan dalam air secara kimiawi akan menjadi netral dan dikenal dengan kesadahan non-alkali. Bahan tersebut disebut bahan kimia sadah permanen dan membentuk kerak yang keras pada permukaan boiler yang sulit dihilangkan. Bahan kimia sadah non-alkali terlepas dari larutannya karena penurunan daya larut dengan meningkatnya suhu, dengan pemekatan karena penguapan yang berlangsung dalam boiler, atau dengan perubahan bahan kimia menjadi senyawa yang kurang larut.

Silika

Keberadaan silika dalam air boiler dapat meningkatkan pembentukan kerak silika yang keras. Silika dapat juga berinteraksi dengan garam kalsium dan magnesium, membentuk silikat kalsium dan magnesium dengan daya konduktivitas panas yang rendah. Silika dapat meningkatkan endapan pada sirip turbin, setelah terbawa dalam bentuk tetesan air dalam steam, atau dalam bentuk yang mudah menguap dalam steam pada tekanan tinggi. Dua jenis utama pengolahan air boiler adalah pengolahan air internal dan eksternal.

→ Leave a CommentCategories: Boiler
Tagged: ,

Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil)

January 24, 2010 · Leave a Comment

1. LOADING RAMP

Setelah buah disortir pihak sortasi, buah dimasukkan kedalam ramp cage yang berada diatas rel lori. Ramp cage mempunyai 30 pintu yang dibuka tutup dengan sistem hidrolik, terdiri dari 2 line sebelah kiri dan kanan.

Pada saat pintu dibuka lori yang berada dibawah cage akan terisi dengan TBS.

Setelah terisi, lori ditarik dengan capstand ke transfer carriage, dimana transfer carriage dapat memuat 3 lori yang masing – masing mempunyai berat rata-rata 3,3 – 3,5 ton. Dengan transfer carriage lori diarahkan ke rel sterilizer yang diinginkan.

Kemudian diserikan sebanyak 12 lori untuk dimasukan kedalam sterilizer. Pemasukan lori ke dalam sterilizer menggunakan loader.

2. STERILIZER

Sterilisasi adalah proses perebusan dalam suatu bejana yang disebut dengan sterilizer. Adapun fungsi dari perebusan adalah sebagai berikut:

1.   Mematikan enzyme.

2.   Memudahkan lepasnya brondolan dari tandan.

3.   Mengurangi kadar air dalam buah.

4.   Melunakkan mesocarp sehingga memudahkan proses pelumatan dan

pengepressan.

5.   Memudahkan lepasnya kernel dari cangkangnya.

Proses perebusan dilakukan selama 85 -95 menit. Untuk media pemanas dipakai steam dari BVP (Back Pressure Vessel) yang bertekanan 2,8-3 bar.

Perebusan dilakukan dengan sistem 3 peak ( tiga puncak tekanan). Puncak pertama tekanan sampai 1,5 Kg/cm2, puncak kedua tekanan sampai 2,0 Kg/cm2 dan   puncak ketiga tekanan sampai 2,8 – 3,0 Kg/cm2.

Berikut proses perebusan sistem tiga peak :

  1. Deaeration dilakukan 2 menit, dimana posisi condensate terbuka.
  2. Memasukkan uap untuk peak pertama yang dicapai dalam waktu 10 menit. Biasanya tekanan mencapai 1,2 bar.
  3. Uap dan kondensat dibuang sampai tekanan menjadi 0 bar dalam waktu 5 menit.
  4. Uap dimasukkan selama 15 menit untuk mencapai tekanan 2 bar.
  5. Uap kondensat dibuang lagi selama 3 menit.
  6. Kemudian steam dimasukkan lagi untuk mencapai peak ke-3 dalam waktu 15 – 20 menit.
  7. Setalah peak ketiga tercapai maka dilakukan penahanan selama 40 – 50 menit.
  8. Uap kondensat dibuang selama 5 – 7 menit sampai tekanan 0

3. THRESSER

Setelah perebusan TBS yang telah masak diangkut ke thresser dengan mengggunakan hoisting crane yang mempunyai daya angkat 5 ton. Lori diangkat dan dibalikkan diatas hopper thresser (auto feeder).

Pada stasiun ini tandan buah segar yang telah direbus siap untuk dipisahkan antara berondolan dan tandannya. Sebelum masuk kedalam thresser TBS yang telah direbus diatur pemasukannya dengan menggunakan auto feeder. Dengan  menggunakan putaran TBS dibanting sehingga berondolan lepas dari tandannya dan jatuh ke conveyor dan elevator untuk didistribusikan ke rethresser untuk pembantingan kedua kalinya. Thresser mempunyai kecepatan putaran 22 – 25 rpm. Pada bagian dalam thresser, dipasang batang-batang besi perantara sehingga membentuk kisi-kisi yang memungkinkan berondolan keluar dari thresser. Untuk tandan kosong sendiri didistribusikan dengan empty bunch conveyor untuk didistribusikan ke penampungan empty bunch.

4. STASIUN PRESS

Berondolan yang keluar dari thresser jatuh ke conveyor, kemudian diangkut dengan fruit elevator ke top cross conveyor yang mendistribusikan berondolan ke distributing conveyor untuk dimasukkan dalam tiap-tiap digester. Digester adalah tangki silinder tegak yang dilengkapi pisau-pisau pengaduk dengan kecepatan putaran 25-26 rpm, sehingga brondolan dapat dicacah di dalam tangki ini. Bila tiap-tiap digester telah terisi penuh maka brondolan menuju ke conveyor recycling, diteruskan ke elevator untuk dikembalikan ke digester. Tujuan pelumatan adalah agar daging buah terlepas dari biji sehingga mudah di-press. Untuk memudahkan pelumatan buah, pada digester di-inject steam bersuhu sekitar  90 – 95 °C.

Berondolan yang telah lumat masuk ke dalam screw press untuk diperas sehingga dihasilkan minyak (crude oil). Pada proses ini dilakukan penyemprotan air panas agar minyak yang keluar tidak terlalu kental (penurunan viscositas) supaya pori-pori silinder tidak tersumbat, sehingga kerja screw press tidak terlalu berat. Penyemprotan air dilakukan melalui nozzle-nozzle pada pipa berlubang yang dipasang pada screw press. Kapasitas mesin press adalah 15 ton per jam.

Tekanan mesin press harus diatur, karena bila tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan inti pecah dan screw press mudah aus. Sebaliknya, jika tekanan mesin press terlalu rendah maka oil losses di ampas tinggi.

Minyak hasil mesin press kemudian menuju ke sand trap tank untuk pengendapan. Hasil lain adalah ampas (terdiri dari biji dan fiber), yang akan dipisahkan dengan menggunakan cake breaker conveyor (CBC).

5. STASIUN PEMURNIAN

Minyak yang berasal dari stasiun press masih banyak mengandung kotoran-kotoran yang berasal dari daging buah seperti lumpur, air dan lain-lain. Untuk mendapatkan minyak yang memenuhi standar, maka perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak tersebut. Pada stasiun ini terdiri dari beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan minyak produksi, yang meliputi : Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Tank, Continous Settling Tank (CST), Oil Tank, Purifier, Vacum Dryer, Sludge Oil Tank, Sludge Vibrating Screen, Sludge Centrifuge, Fat Pit, dan  Storage Tank.

a. Sand Trap Tank

Minyak hasil mesin press merupakan minyak mentah yang masih banyak mengandung kotoran-kotoran. Minyak tersebut masuk ke sand trap tank untuk mengendapkan partikel-partikel yang mempunyai densitas tinggi. Sand trap tank adalah sebuah bejana yang berbentuk silinder tegak.

b. Vibrating Screen

Minyak bagian atas dari sand trap tank yang masih mengandung serat dan sedikit kotoran dialirkan ke ayakan getar (vibrating screen). Proses penyaringan memakai vibrating screen bertujuan untuk memisahkan padatan, seperti : serabut, pasir, tanah dan kotoran-kotoran lain yang masih terbawa dari sand trap tank. Vibrating yang digunakan adalah double deck vibrating screen, dimana screen pertama berukuran 30 mesh dan screen kedua 40 mesh. Padatan yang tertahan pada ayakan akan dikembalikan ke digester melalui conveyor, sedangkan minyak dipompakan ke crude oil tank.

c. Crude Oil Tank (COT)

Minyak yang keluar dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk ditampung sementara. Pada crude oil tank ini minyak dipanaskan dengan steam melalui sistem pipa pemanas, dan suhu dipertahankan 90-95°C. Dari sini minyak dipompakan ke CST (Continuous Settling Tank).

d. Continous Settling Tank (CST)

Minyak dari COT dipompakan ke CST dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk mengendapkan lumpur (sudge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu dipertahankan 86-90 oC. Minyak pada bagian atas CST dikutip dengan bantuan skimmer menuju oil tank, sedangkan sludge (yang masih mengandung minyak) pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating screen sebelum ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST di-blowdown untuk dibawa ke sludge drain tank .

e. Oil Tank

Minyak dari CST menuju ke oil tank untuk ditampung sementara waktu, sebelum dialirkan ke oil purifier. Dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75-80°C) dengan tujuan untuk mengurangi kadar air.

f. Purifier

Di dalam purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air yang terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl), sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang melekat pada dinding di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.

g. Vacuum Drier

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke bawah dan kemudian dipompakan ke storage tank.

h. Sludge Tank

Untuk overflow dari tangki ini di alirkan ke drain tank sedangkan under flownya dialirkan ke vibrating screen dan brush strainer atau langsung ke bak transit untuk dipompakan ke sand cyclone. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge dipanaskan (80-90oC) dengan menggunakan uap yang dialirkan melalui coil  pemanas. Sehingga densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang melekat pada minyak akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki.

Dari sand cyclone atau brush strainer sludge dialirkan ke balance tank sebagai umpan untuk decanter atau sludge centrifuge.

i. Sludge centrifuge

Sludge centrifuge untuk mengolah sludge. Sludge Centrifuge adalah alat yang digunakan untuk memisahkan  minyak yang masih terkandung di dalam sludge, dengan cara pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal. Didalam sludge centrifuge ini terdapat bowl yang berputar 1450 rpm, bowl ini berbentuk bintang yang diujungnya terdapat nozzle dengan diameter lubang tertentu dan nozzle ini dapat diganti sesuai keinginan.

Prinsip kerjanya adalah nozzle separator berputar dengan gaya centifugal dimana pemisahannya, fraksi berat ( lumpur, kotoran )  terlempar ke dinding bowl dan fraksi ringan (air dan minyak) akan ketengah. Minyak yang mempunyai densitas lebih kecil akan menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (paring disk), dan ditampung di reclaimed tank sebelum dipompakan oleh reclaimed oil pump untuk alirkan kembali ke CST. Sedangkan sludge (mengandung air) yang mempuyai densitas lebih besar akan terdorong ke bagian dinding bowl dan keluar melalui nozzle, kemudian sludge keluar melalui saluran pembuangan menuju fat pit.

j. Sludge drain tank

Lapisan bawah dari CST, dan sludge tank pada selang waktu tertentu didrain menuju sludge drain tank. Di sludge drain tank minyak mengalir tenang dan dibiarkan overflow untuk mengalir dan ditampung pada reclaimed tank, dan kemudian dipompakan kembali ke CST untuk kemudian dimurnikan lagi. Sedangkan kotoran dan air dialirkan menuju fat pit.

k. Fat Pit

Sebelum sludge di buang ke kolam pengolahan limbah, terlebih dahulu ditampung di fat pit dengan maksud agar minyak yang masih terbawa dapat terpisah kembali. Di Fat Pit diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses pemisahan minyak dengan kotoran. Minyak yang ada pada permukaan dibiarkan melimpah (overflow). Selanjutnya minyak ditampung pada sebuah bak pada pinggiran kolam fat pit, dan kemudian dipompakan kembali ke sludge drain tank.

l. Storage Tank

Minyak dari vacuum dryer, kemudian dipompakan ke storage tank (tangki timbun), pada suhu simpan 45-55°C. Setiap hari dilakukan pengujian mutu. Minyak yang dihasilkan dari daging buah  berupa minyak yang disebut Crude Palm Oil (CPO).

6.  STASIUN KERNEL

Pada stasiun ini dilakukan aktifitas pemisahan serabut dari nut, pemisahan inti dari cangkangnya dan juga pengeringan inti. Peralatan yang digunakan di stasiun ini , diantaranya : Cake Breaker Conveyor (CBC), Depericarper, Nut Silo, Ripple Mill, Claybath, dan Kernel Silo.

1.   Cake Breaker Conveyor (CBC)

Ampas dari screw press yang terdiri dari fiber dan nut yang masih menggumpal masuk ke CBC. CBC merupakan suatu screw conveyor namun screwnya dipasang palt persegi sebagai pelempar fiber dan nut. CBC berfungsi untuk mengurai gumpalan fiber dengan nut dan membawanya ke depericarper.

2.   Depericarper

Depericarper adalah alat untuk memisahkan fiber dengan nut. Fiber dan nut dari CBC masuk ke separating column. Disini fraksi ringan yang berupa fiber dihisap dengan  fibre cyclone dan di tampung dalam hopper sebagai bahan bakar pada boiler. Sedangkan fraksi berat berupa nut turun ke bawah masuk ke polishing drum.

3.    Nut Polishing Drum

Nut polishing drum berupa drum berlubang-lubang yang berrputar. Akibat dari perputaran ini terjadi gesekan yang mengakibatkan serabut yang masih menempel pada nut terkikis dan terpisah dari nut. Nut jatuh, selanjutnya nut diangkut oleh nut conveyor dan destoner (second depericarper) untuk memisahkan batu dan benda – benda yang lebih berat dari nut seperti besi. Nut yang terbawa ke atas jatuh kembali di dalam air lock dan di tampung oleh nut elevator untuk dibawa ke dalam nut silo.

4.   Nut Silo

Fungsi dari alat ini sebagai tempat penampungan nut, hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari cangkangnya.

5.   Ripple Mill

Biji dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah. Setelah dipecahkan inti yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran di bawa ke kernel grading drum.

6.   Kernel Grading Drum

Pada kernel grading drum ini di saring antara nut,shell dan kotoran dengan nut yang belum terpecahkan. Untuk nut shell dan kotoran lolos dari saringan dibawa ke LTDS. Sementara untuk nut atau yang tertahan dikembalikan ke nut conveyor.

7.   Light Tenera Dry Separator (LTDS)

Pada bagian ini akan terjadi pemisahan dimana fraksi-fraksi yang lebih ringan akan dihisap oleh LTDS cyclone. Fraksi-fraksi yang ringan di hisap yang terdiri dari cangkang dan serabut akan di bawa ke shell hopper melalui fibre and shell conveyor. Inti dan sebagian cangkang yang belum terpisahkan, dipisahkan lagi pada clay bath.

8.   Clay Bath

Clay bath adalah alat pemisahan Inti dengan cangkang. Proses pemisahan ini secara basah yang menggunakan larutan CaCO3 dan air dengan ukuran partikel CaCO3 lolos mesh 400. Clay bath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang berdasarkan berat jenis. Berat jenis Kernel basah = 1,07 dan berat jenis cangkang = 1,15 – 1,20, maka untuk memisah kernel dan cangkang tersebut dibuat larutan dengan berat jenis = 1,12. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan tenggelam. Inti yang merupakan fraksi ringan akan dibawa ke kernel silo untuk disimpan dengan suhu tertentu.

9.   Kernel Silo

Inti yang masih mengandung air, perlu dikeringkan sampai kadar air 7%. Inti yang berasal dari pemisahan di clay bath melalui top wet kernel conveyor didistribusikan ke dalam unit kernel silo untuk dilakukan proses pengeringan. Pada kernel silo ini inti akan dikeringkan dengan menggunakan udara panas dari steam heater yang dihembuskan oleh Fan kernel silo ke dalam kernel silo. Pengeringan dilakukan pada temperatur 60-80°C selama 4-8 jam. Kernel yang telah dikeringkan ini dibawa ke kernel bulk silo melalui dry kernel transport fan.

→ Leave a CommentCategories: Crude Palm Oil
Tagged: , ,

Tentang Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil)

January 24, 2010 · Leave a Comment

Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur ini berasal dari Afrika Barat. Afrika Barat dipercaya sebagai tempat dimana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika bagian lainnya, Amerika Equatorial, Asia Tenggara dan Pasifik selatan.

Kelapa sawit di Indonesia diintroduksi pertama kali oleh Kebun Raya pada tahun 1884 dari Mauritius (Afrika). Saat itu Johannes Elyas Teysmann yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya. Hasil introduksi ini berkembang dan merupakan induk dari perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara. Pohon induk ini telah mati pada 15 Oktober 1989, tapi anakannya bisa dilihat di Kebun Raya Bogor. Perkebunan kelapa sawit pertama dibangun di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt seorang Jerman pada tahun 1911.

Pulau Sumatra terutama Sumatera Utara, Lampung dan Aceh merupakan pusat penanaman kelapa sawit yang pertama kali terbentuk di Indonesia, namun demikian sentra penanaman ini berkembang ke Jawa Barat (Garut selatan, Banten Selatan), Kalimantan Barat dan Timur, Riau, Jambi, Irian Jaya.

Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu factor yang menentukan kebehasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil (CPO) dan inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya. Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya, sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.

Pada prinsipnya proses pengolahan kelapa sawit adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari tandan buah segar kelapa sawit (TBS) yang diikuti dengan proses pemurnian

→ Leave a CommentCategories: Crude Palm Oil
Tagged:

Perjuangan

November 6, 2009 · Leave a Comment

Satu hal yang saya mengerti perjuangan adalah kepuasan

Tidak semua yang kita inginan bisa terwujud

Kepuasan dalam perjuangan bisa terwujud

Saat melangkah untuk berjuang

Satu kata yang terucap “ ayo semangant “

Hidup takkan membunuh orang2 yang berjuang

Hidup tidak akan menelan orang2 yang berjuang

Hidup tidak akan kecewa jika kita berjuang

Melangkah untuk berjuang

Merupakan sentuhan pertama menapak kehidupan

Melewati batas kemauan

Menerjang ketiadaan

(chyp’s)

→ Leave a CommentCategories: Poems
Tagged:

Piperine multiplies the strength of many supplements and drugs

June 9, 2009 · Leave a Comment

source : http://delano.com/Articles/piperine-multiplies.html

During the past few years, paralleling the public’s increasing interest in using nutritional supplements, there has been an increasing interest on the part of governmental agencies and so-called ‘consumer advocate’ groups to eliminate the public’s right to buy them. This conflict has given rise to a surge of research to determine the efficacy of various supplements. Some of the research is politically motivated and is designed to find no efficacy, some is sloppily designed and produces answers contrary to those found by other studies, and some is well-designed and gives answers we should be able rely on — and yet even the well-designed studies often contradict each other. The field of dietary supplement research is thus a miasma of conflicting claims.

This lack of consistency, in my opinion, usually stems from the failure of researchers to control the bioavailability of the substances they are studying. A given substance acts somewhat differently in different individuals, and in the same individual at different times. Absorption from the digestive tract varies; the residency time in the body varies; the ability to enter and remain inside of cells varies; competition from other substances varies. Controlling all these variables would be a difficult and expensive task — so much so, that researchers make only feeble attempts at it.

Although we supplement users find this situation frustrating insofar as we are unable to get firm answers to questions about efficacy, we can draw one valuable conclusion from it: unless we take special action to ensure the bioavailability of the supplements we use, whatever potential benefits they might have can be lost due to poor absorption, poor residency time, etc. That brings us to the subject of a bioavailability enhancer that I’ve become rather enthusiastic about: piperine.

What is piperine?

Piperine is a pungent substance found in plants of the Piperaceae family — including Piper nigrum (black pepper) and Piper longum (long pepper). These peppers have been used in Ayurvedic medicine for the treatment of various diseases and discomforts. Recent research has provided support for some of these uses and has uncovered the probable mechanism responsible for them.

Let us look at what is known about the piperine’s mechanism of action in the body.

How the body controls access to its cells

The body has several major mechanisms for controlling the exposure of its cells to nutritional and other substances. Four of these mechanisms are of interest with regard to piperine: metabolic conversion, assisted absorption, assisted exclusion, and solubilizer attachment.

Metabolic conversion involves the use of enzymes to chemically convert substances to different substances that may be less active and, in any case, are more easily carried in blood to the kidneys for excretion. The original substances are called ‘substrates’ of the enzymes; after conversion they are called ‘metabolites’. For example, an enzyme called ‘aromatase’ converts the substance testosterone into estradiol. Testosterone is a substrate of the aromatase enzyme; estradiol is a metabolite of testosterone. Although estradiol is itself an important hormone in the body, it also serves as an excretable form of testosterone. Other enzymes convert estradiol into even more easily excreted forms, such as estriol.

Assisted absorption, the second method for controlling the exposure of cells to substances, involves the use of transporter proteins in the cells of the digestive tract. These proteins actively transport substances into cells of the intestinal lining; from there they can be transferred to the blood. Assisted absorption is particularly important for ensuring that essential amino acids are available in adequate amounts.

Assisted exclusion involves the use of transporter proteins that ‘pump’ certain substances out of cells, whereupon they can be taken away by the blood. While the activities of these pumps can protect cells from toxic overloads of many substances, they can also spoil the efficacy of otherwise beneficial drugs and supplements by pumping these substances out of the cells before they can act. One of the most important such ‘pump’ proteins is p-glycoprotein, which is found in the membranes of cells in the intestines, brain, liver, pancrease, kidneys, and other tissues.

Solubilizer attachment prevents substances from entering cells by linking them chemically to a highly water-soluble substance. Not only does this alter the biological activities of the substances in question, it also makes them unable to diffuse through cell membranes. One of the important solubilizers found in the body is glucuronic acid. Substances bound to this solubilizer are usually excreted either into the urine or into the small intestine, depending upon the nature of the substance.

How piperine increases the bioavailability of many substances

Piperine has the remarkable ability to manipulate all four of these mechanisms. It inhibits a number of enzymes responsible for metabolizing drugs and nutritional substances; it stimulates the activity of amino-acid transporters in the intestinal lining; it inhibits p-glycoprotein, the ‘pump’ protein that removes substances from cells; and it decreases the intestinal production of glucuronic acid, thereby permitting more of the substances to enter the body in active form. Consequently, some of these substances are able to reach, enter, and remain within their target cells for longer periods of time than would otherwise be the case. Of course, this can be a mixed blessing — if one is using a drug for which the therapeutic level is not substantially lower than the toxic level, piperine supplementation might raise the bioavailability of the drug until its intracellular concentration exceeds the toxic threshold. On the other hand, piperine supplementation can sometimes turn a marginally effective therapeutic substance into a highly effective one simply by increasing its bioavailability and intracellular residency time. A good example of this latter phenomenon is the use of piperine to increase the bioavailability of curcumin, a supplement with broad activity against cancers, inflammation and infections. A 20 mg dose of piperine can increase curcumin’s bioavailability twentyfold.

Piperine may reduce bioavailability of some substances

While piperine’s most noted effect is to inhibit the metabolic enzymes that would otherwise deactivate many substances, it also has the ability to induce the body’s production of certain of these enzymes. The net effect in some cases would be to increase, rather than decrease, the rate at which certain substances get metabolized in the body, thereby decreasing their bioavailability. Furthermore, in cases where the metabolizing of a substance converts it into a more active (rather than less active) form — for example, a prodrug that gets converted into an active form in the body — piperine may increase the bioavailability of the original substance by slowing its conversion to its metabolite and thus decrease the amount of the active metabolite. In effect, piperine would be reducing the availability of the desired substance. Consequently, the activities of piperine are complex and cannot always be predicted in advance. Piperine users whose drug or supplement regimens employ numerous or unusual substances should be on the lookout for undesired side effects resulting from piperine’s alteration of the bioavailability of these other substances. Presumably most such side effects can be eliminated by adjusting the dosages of these other substances. On the other hand, most users simply rely on the fact that piperine has been consumed for thousands of years as a component of black pepper, apparently without causing significant problems.

Biovailabilities affected by piperine

As indicated above, it is not yet possible to predict on theoretical grounds the effects piperine will have on any chosen dietary substance or drug. However, some categories of substances have been directly tested and found to have increased bioavailability when consumed with piperine.  Substances for which piperine has been directly shown to increase bioavailability. barbiturates, beta-carotene, coenzyme Q10 (CoQ10), curcumin (extract from turmeric), dapsone, ethambutol, isoniazid, nalorphine, phenytoin, propranolol, pyrazinamide, rifampicin, selenium (from selenomethionine), sulfadiazene, theophylline, vitamin B-6 (pyridoxine), glucose (absorption increased), amino acids (absorption increased).

A far larger list could be compiled of substances (including drugs and dietary substances) whose bioavailability is assumed to be altered by piperine due to the known effects of piperine on proteins that metabolize or transport these substances. Table 2 lists some of the drugs that fall into this category. It would be useful to have an analogous list for dietary substances, but in most cases the data do not exist.

Other actions of piperine Aside from its effects on bioavailability, piperine has a number of other actions in the body. (It is suspected, but not proven, that some of these actions result from piperine’s effects on the bioavailability of other substances.) These actions include:

* Increasing the brain’s production of beta-endorphins

* Pain relief * Increasing the brain’s production of serotonin

* Anticonvulsant, anti-epileptic action

* Increasing the adrenal glands’ production of epinephrine (adrenaline)

* Altering contractions in the upper and lower digestive tract

* Reducing the stomach’s production of acid (for about 1 hour)

* Decreasing ulceration of the stomach

* Increasing the pancreas’s production of digestive enzymes (amylase, lipase, trypsin and chymotrypsin) * Stimulating production of melanin

* Reducing inflammation due to irritation or allergy

* Relieving asthma symptoms These actions have been deduced from lab experiments, not clinical studies, and so the dosages required to achieve them are not known.

→ Leave a CommentCategories: piperine
Tagged:

Ekstrak Lada dan Piperine

June 8, 2009 · Leave a Comment

Ekstrak lada yang dihasilkan dengan menggunakan pelarut tertentu akan mengandung suatu senyawa yang disebut alkaloid. Alkaloid merupakan suatu molekul nitrogenous organic yang memiliki sifat pharmacological effect terhadap manusia serta hewan. Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung nitrogen, biasanya merupakan derivat dari asam amino, rasanya pahit, berbentuk kristal putih (kecuali nikotin). Selain itu senyawa alkaloid bersifat basa dan umumnya bereaksi dengan asam membentuk garam yang larut dalam air (www.friedli.com/herbs/phytochem/alkaloids). Alkaloid ditemukan dalam tumbuhan (seperti kentang, lada, tomat, dll), hewan (seperti dalam kulit ikan), dan jamur (www.en.wikipedia.org/wiki/Category:Alkaloids).

Ekstrak biji lada mengandung beberapa senyawa alkaloid, seperti piperine, piperanine, piperidine, piperettine. Mengingat kegunaan suatu senyawa alkaloid yang sangat luas cakupannya, maka diperlukan berbagai pendekatan proses yang memungkinkan untuk diaplikasikan dalam produksi komersial.

Piperine merupakan salah satu senyawa alkaloid yang dapat dijumpai dalam tanaman lada. Dalam biji lada, piperine dapat dimurnikan hingga kemurnian tinggi (hingga 98%b). Dalam biji lada terdapat sebanyak 5%b – 9%b piperine. Rumus molekul dari piperine adalah C17H19NO3 (rumus bangun disajikan pada Gambar 3) dan memiliki melting point 128oC – 132oC (www.web1.caryacademy.org/chemistry). Piperine merupakan trans-trans stereoisomer dari 1-piperoylpiperidine. Piperine juga dikenal sebagai (E, E)-1-piperoylpiperidine dan (E, E)-1-[5-(1, 3-benzodioxol-5-y1)-1-oxo-2, 4-pentdienyl] piperidine (www.pdrhealth.com).

(chyps research)

→ Leave a CommentCategories: piperine
Tagged:

White Pepper and Black Pepper (Lada/Sahang Putih dan Hitam)

May 30, 2009 · Leave a Comment

The pepper of commerce is produced from unripe fruits of the perennial climbing vine and is available in two distinct forms – black pepper and white pepper.

The former consists of the whole dried fruits picked while still green and sun dried.

During drying they turn to a brownish black color with the individual peppercorns having a much wrinkled outer skin.

White pepper is the dried kernel of the fruits which are gathered when they are just turning slightly yellow.

The fruit are subsequently soaked in water to soften and loosen the outer skin which is then removed by friction, white peppercorns are smooth surfaced.

Pepper originated in the Western Ghats of India from where it has spread to many parts of tropical Asia, notably Indonesia, Cambodia, Vietnam and Sri Lanka.

As a seasoning and condiment, pepper is second to none, and its use is ubiquitous.

The distinctive odor and flavor of pepper overlie its pungency due to its essential oil content which varies both quantitatively and qualitatively between sources and varieties.

The chemical composition of the oil is complex and is present from 1 to 3%.

The oil from white pepper contains similar components to that from black pepper are markedly different from that of the spice stored in a ground condition as regular users of the domestic pepper mill will readily attest.

Not only does the ground material soon lose it pleasing freshness but it also develops an obvious and insistent ammoniacal note which detracts from its true peppery character.

The profile of essential oil distilled directly from freshly crushed peppercorns has a most attractive nuance much appreciated in blending of high quality, spicy fragrances.

→ Leave a CommentCategories: Pepper atau Lada
Tagged:

Peppercorn Varieties and Origins

May 26, 2009 · Leave a Comment

Pepper is always best when served freshly ground, regardless of the variety, and if you have never used freshly ground pepper you really do not know what pepper tastes like. The outer shell serves to seal in freshness and once this protection is lost, flavor diminishes rapidly. Some claim to notice a difference within 30 minutes, and most agree that much of the flavor is lost within 30 days of being ground.

While the full flavor of pepper will not be released until the outer shell has been cracked, whole peppercorns reveal much of their character by aroma. While different types of pepper have distinctively different flavors, it also true that different varieties of one type such as the Lampong and Malabar black peppercorns also have subtle difference in aroma and taste. It does not take a highly refined sense of smell to distinguish the differences in aroma. Try having a “pepper tasting” some time by first smelling different varieties directly from an open bag. (If you try smelling some roasted coffee beans between peppers you will have less carryover from the previous sample). You may finish by tasting in your mouth the variety that your nose preferred but it is difficult to taste more than one pepper without having the flavors intermingle.

All Pepper varieties are derived from the same vine (Piper Nigrum). Different varieties result from picking the berries at various stages of ripening and processing them differently. Common varieties include the following:

• Green peppercorns: These are berries that are picked long before maturity in the green stage and either air-dried, freeze-dried or pickled in brine to prevent fermentation. They are aromatic with a fresh flavor, but are not pungent. In the dried form they are considered essential for French, Creole and some Thai cooking. This is the also the pepper called for in a traditional “Pepper Steak” sauce. Because of the extra processing required and the smaller yield, these are some of the more expensive peppers. In recent years Brazil has become the chief source for this variety. We offer only the freeze-dried form, which is much more expensive, but widely recognized to have superior appearance and flavor.

• Pink or Rose Pepper: This is not a true pepper but is a dried berry from a small mastic tree related to the rose bush and found on the French Island of Reunion in the Indian Ocean. (These are also commonly referred to as “Red Peppercorns” in trade and in many cookbooks.) These are used whole in nouveau cuisine dishes or mixed with other varieties for general use. The flavor is most similar to that of Black Pepper, but milder and more acidic with a hint of sweetness. This variety is expensive and difficult to find at the average grocery store. We have found a quality source with reasonable prices.

• White Peppercorns: These are fully ripened peppercorns that have been picked close to maturity and had their outer skin removed. This is generally done by soaking the berries in water for a number of days and then rubbing the outer skins off. It is also sometimes done mechanically while dry. The taste is hotter but less pungent and aromatic, and distinctive from that of the Black pepper.
White pepper is commonly used for sauces, soups, potatoes and beverages. (This is most popular pepper in northern Europe, outselling Black pepper by 10:1, reverse the ratio of the USA.) Due to the extra processing involved White pepper is slightly more expensive than Black varieties originating from the same location. We offer several varieties as follows:
a. Muntok: The most common variety of White Pepper originates from the small Indonesian Island of Bangka and the berries are named Muntok after the islands main port.
b. Sarawak: In the world of agriculture surprises sometimes occur, and a superior product is produced in a region not known for that type of product. This is the case with the most recent harvest of Sarawak White Pepper from Malaysia. These berries are large and flavorful and with a beautiful consistent white color and robust flavor. The price is about double that of Muntok and well worth it. (Click on the picture above and note the large size and uniform white color of the Sarawak corns compared to the Muntok.)
c. Talamanca Del Caribe: If you like your pepper hot, this is about as good as it gets for our friend “Piper nigrum”. This is a truly exceptional white pepper, which explains why it is double the price of Muntok. This pepper is organically grown and comes from Ecuador.

• Red peppercorns: A relatively recent invention, these are peppercorns picked at maturity in their red form and then dried whole or soaked in brine. (Do not confuse with “Red Pepper” which is finely ground Cayenne and other Red Chiles.) Red Peppercorns are extremely rare and not presently imported inot the USA to my knowledge. It is generally safe to assume that any recipe that calls for “Red Peppercorns” is in fact referring to the “Rose Pepper” described above.
• Black peppercorns: This is the most popular form of pepper in the USA. Black peppercorns are produced by picking the berries as they are beginning to ripen from green to yellow and while still relatively immmature. They are then boiled briefly and then allowed to ferment and dry naturally in the sun (or by forced air heating) until wrinkled and black. Black Pepper is hot, pungent and aromatic.
Most generic black pepper sold in stores is a mixture from a variety of sources bought at the lowest possible price. The least expensive grades of black originate from Brazil and are less flavorful than others. Unfortunately, most common black peppers contain a high proportion of Brazilian black pepper.
We sell only distinct varieties with the names indicating the origin and quality as follows:
a. Malabar: is a popular variety that originates from the Malabar Coast in the SW portion of India. The berries have a slightly greenish hue. This is an excellent pepper with robust flavor available at a reasonable price.
b. Tellicherry: comes from the same area as Malabar but represents the largest and highest quality berries and is generally considered to be one of the finest black peppers available. There is a balancing act involved to allow maximum development of size and flavor of the berries on the vine without allowing sugar content to rise to where losses will occur from rotting or predation.
These berries are picked a little closer to maturity than the Malabar as the color reaches yellow-orange and then boiled and dried. The color is a dark chocolate brown to black and the flavor is highly pungent and aromatic. Tellicherry peppercorns have a complex spicy aroma.
c. Sarawak: comes from Malaysia, and yields a smaller black berry with a slightly grayish hue. It has a milder flavor and frsh aroma that is often described as fruity.
d. Lampong: comes from the island of Sumatra in Indonesia and is similar in many respects to Sarawak except for being hotter. This is the variety most often sold in the UK. Lampong peppercorns have an earthy and smoky aroma.
e. Vietnamese: Some of the world’s best spices are coming from Vietnam these days and their pepper is no exception. This pepper is commonly compared to Lampong but I find the berries to be much larger and with a pleasant lemony/citrus aroma and taste. This variety is very versatile and worth trying. We are one of the few retailers to offer it as a distinct variety.
f. Talamanca Del Caribe: is a variety we discovered that is largely unknown to the average chef. This is a pepper grown in small quantities in Ecuador and certifed as organic. It has a robust flavor and pungent aroma that will likely surpass anything you have experienced before. Tasting Talamanca can be a life-changing event. This is the boldest flavored black pepper we know of.
g. Madagasacar: This is another variety largely unkown to American chefs. Madagascar was once a colony of France and the close relationship continues with most of their pepper exported there. Madagascar pepper features a medium sized berry brownish-gray in color with a strong aroma remniscent of hickory smoke or charred oak barrels. Some Chefs in France refuse to use anything else. Definitely worth a try.
h. Pohnpei: This is another area of micro-production that only dates back to the early 1960’s. Pohnpei (formerly Ponape) is a small island in Micronesia that became famous for its high quality but very limited pepper production. The price is very high and the supply has been very eratic in recent years. This variety has a flavor that is often described as sweet.

• Szechuan peppercorns: Szechuan (Sichuan) peppercorns are not a true pepper at all, but berries from a prickly Ash tree native to China. It is widely grown and consumed in Asia and is a vital component in many Chinese and Japanese dishes.
The peppercorn are air dried rust colored berries with hair-thin stem connecting to a split husk containing a black seed. The husk and the seeds are often separated as they have different flavors.
Szechuan pepepr corns have a aromatic and resinous flavor that leaves the lips tingly and slightly numb when tasted directly follwoed by a mdoerate heat that lingers. The peppercorns are often lightly roasted before crushing in a mortar and pestle and go well with fish, chicken and duck, or any dish where a spice heat is desired.
At Pepper-Passion we have made it easy to evaluate and sample different peppercorns. We offer a Rainbow Sampler Packs and also Black Pepper Sampler Packs at discounted package prices that make tasting and sampling pepper convenient and easy.
White Pepper, Muntok
The Pepper plant is a flowering wine. White Pepper is harvested when the pepper berry is almost ripe.
Then the peppercorns are soaked in water until its outer shell drops of and leaves the heart of the pepper. The White Peppercorns are dried under the sun.

Origin
Muntok White Pepper belongs to the best Pepper varieties of the world. This white pepper corn comes from the Indonesian Island Bangka southeast of Sumatra.
Muntok Pepper is an aromatic hot pepper and goes perfectly with fish, salad or poultry.

→ Leave a CommentCategories: Pepper atau Lada
Tagged:

Around the Toba

March 1, 2009 · 3 Comments

Setelah 38 hari akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pagi yang bisa membuat saya bangun pagi lebih awal, walau ngantuk meracuni mataku, hingga saya sulit membuka mata dengan benar. Kuhidupkan lampu kamar mandi, bergegas membuka kamar mandi, langsung menghidupkan shower dengan mode air menyirami begitu hangat. Penampilanku hari ini tidak seperti biasanya (waktu trainee), sekarang sedikit gaul dikit gitu.hahaha. Buat yang namanya “jalan-jalan” kayaknya kudu mesti.hehehe….

Temen-temen (Nyoman, Arga, Abed, Navi, Alaq, Adesta, Indra, Yosef, Afif) sudah bersiap-siap untuk menjajal perjalanan hari ini, di mulai dari titik “mess”. Permulaan jalan diawali dengan sarapan pagi, sarapan dengan lontong sayur. Walau lontong sayurnya tidak bagitu enak, tapi cukup mengisi sebagian saluran pencernaan saya, hingga waktu break point berikutnya.

Berawal dari kota medan, menuju dataran tinggi karo yang diapit oleh dua gunung berapi aktif yaitu gunung Sibayak dan Sinabung. Di tengah perjalan kita berhenti di sebuah “break point” untuk makan jagung bakar.

dsc01308

OTW

Perjalanan dilanjutkan menuju kota Berastagi, kota ini merupakan kota kecamatan karo, di daerah ini hamparan kebun jeruk terlihat dari kiri dan kanan jalan. Kota ini berjarak sekitar 50an km dari Medan, dengan waktu tempuh 2 jam, mengingat kondisi goegrafis jalan yang menanjak, membuat perjalanan akan memakan waktu yang agak lama.

dsc01324

dsc01326

Pertama kali menginjak tanah sumatra utara ini, salah satu tempat wisata yang muncul dipikiran adalah Danau Toba. Inilah yang di nanti-nanti, mata saya harus melihat dengan jelas dan tajam keindahan Danau Toba dan sekitar. Danau vulkanik dengan panjang sekita 100-an km dan lebar 30-an km, memiliki sebuat pulau. Pulau yang terletak di tengah danu ini adalah Pulau Somosir. Pulau yang pasti dihafal oleh anak SD jaman say dulu, karena jawaban pulau somosir sangat sering muncul di Ujian.heeeee…., walaupun hanya melihat dari kejauhan pulau ini, akhirnya pulau itu bisa saya liaht juga. Btw, danau Toba ini terbantuk sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervulkano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut (wikepedia).dsc01346

dsc01364

dsc01369

dsc01408

Dengan menyewa perahu Rp.50.000, kami pun bisa menikmati keindahan danau toba dari sudut yang berbeda. Hamparan bukit hijau seperti lumut, membentengi danau, sangat luar biasa arsitektur megah buatan sang pencipta. Air yang dingin memenuhi cekungan buatan-Nya, menambah hawa sejuk di seluruh tubuh dan menenangkan otak kita. Setelah puas mengelilingi secuil danau toba, perut kami pun memberi signal, waktu nya mengisi perut dengan makanan yang enak disini. Di sebuah pondok kami berhenti dan memesan makanan sesuai selera masing-masing. Saya tertari dengan sop + nasi, dengan cuaca yang sejuk ini, makan sop merupakan pilihan yang tepat buat saya. Setelah pada kenyang semua dan telah menikmati kelezatan dan keindahan Danau Toba, perjalan dilanjutkan ke Air Terjun Sipiso-piso.

dsc01492

dsc01476

dsc01455

Sipiso-piso merupakan air terjun yang cukup indah, terletak di desa Tongging. Air terjun yang berada di 24 km utara Kabanjahe ini memiliki ketinggian sekitar 120an meter. Untuk menuju ke bagian bawah tepat di mana air terjun menumpahkan semua airnya, kita harus turun belok-belok berjarak sekita 1km lebih. Menuruni anak tangga yang sangat melelahkan, jika mau menikmati sejuknya percikan air terjun ini. Keindahannya tidak diragukan lagi dan tidak lengkap jika kita tidak berbasah-basahan dibawah sana.

Perjalanan hari ini ditutup dengan basah-basahan, sekitar jam 5 kami beranjak meninggalkan dataran tinggi ini, diiringi hujan yang mebuat suasana menjadi lebih seru. Tanpa terasa (krn pada tidur nih) jam 8 kita sudah memasuki kota Medan dan tiba di Mess kita lagi. Thanks to all my friends (Nyoman, Arga, Abed, Navi, Alaq (Sopir ini, hehehe), Adesta, Indra, Yosef, Afif)…di tunggu perjalanan kita selanjutnya. (chyps)

→ 3 CommentsCategories: Trips
Tagged: