Apakah Bahan Bakar Nabati Masih Mendapat Perhatian Dunia di Tengah-Tengah Merosotnya Harga Bahan Bakar Minyak Bumi?


h_leo_debrismap_02

Biodiesel dan Bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang sangat ramah lingkungan, dan sangat memiliki peranan penting dan merupakan tujuan banyak negara dimasa yang akan datang. Selain bahan bakar tersebut hanya kecil sekali menghasilkan emisi, bahan bakar ini memiliki kandungan toksiknya sangat kecil, seperti kandungan sulfurnya. Berbagai tumbuhan yang dapat dikonversi menjadi biodiesel adalah jarak pagar, kemiri, saga utan, kecipir, kelor, rapus, tangkalak (malai), dan sebagainya. Sebagai contoh tanaman yang sedang digembar-gemborkan pemerintah ketika membicarkan masalah lingkungan dan minyak bumi yang mashal,  sebagai sumber bahan bakar alternatif adalah jarak pagar dan CPO (crude palm oil), walaupun pada kenyataannya program tersebut memiliki banyak kendala dan hambatan, akan tetapi usaha yang telah dilakukan patut dihargai dan dilihat tindak lanjutnya di tahun-tahun yang akan datang. Minyak jarak pagar merupakan salah satu sumber biodiesel yang merupakan non-edible oil sedangkan CPO merupakan sumber biodiesel yang edible oil, sehingga dari kedua bahan bakar alternatif tersebut memilki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penggunaan CPO sebagai sumber bahan bakar pengganti BBM sepenuhnya memang belum bisa dilakukan, selama ini usaha yang dilakukan adalah mencampur biodiesel dari CPO dengan solar dari minyak bumi dengan perbandingan tertentu yang sering kita dengar dengan istilah biosolar B10, B20, dsb. Untuk jarak pagar sendiri, di berbagai negara telah dikembangkan terlebih dahulu jika dibandingkan dengan Indonesia, sedangkan di Indonesia perencanaan dan gaung untuk mengembangkan jarak pagar ini sebagai bahan bakar alternatif muncul setelah pemerintah Indonesia kebakaran jenggot ketika harga minyak mentah dunia yang meningkat secara tajam. Apakah pengembangan ini masih berlanjut atau sudah tidak dihiraukan lagi, mengingat harga minyak dunia saat ini yang terperosok ke titik nadir.

Pada awalnya, pengembangan biodiesel maupun bioetanol memang hanya bertujuan menghasilkan bahan bakar sampingan/alternatif yang  ramah lingkungan saja, tapi dengan berjalannya waktu, pengembangan biodiesel ini merupakan pilihan yang harus dipilih di masa yang akan datang. Setiap manusia baru akan menyadari ketika dia dihadapi dengan cobaan, begitu pula mengenai bahan bakar ini, setalah banyak orang merasakan persediaan bahan bakar unrenewable tinggal sedikit diikuti harganya yang sangat tinggi, ketika orang-orang menjerit  dan menangis yang disebabkan perubahan lingkungan yang sangat menyolok yang diakibatkan dari gas karbon (emisi dari bahan bakar yang selama ini digunakan). Perubahan ini sangat dirasakan oleh setiap orang dimuka bumi ini, terutama pada rakyat miskin yang tinggal di daerah pinggiran dan biasanya daerah tersebut kurang tertata baik serta pada umumnya berprofesi sebagai petani, nelayan. Bencana pun berdatangan, seakan-akan tidak akan pernah hilang. Sebagai contoh, sekarang hampir diseluruh pelosok daratan Indonesia di hinggapi bencana. Banjir, tanah longsor, badai, puting beliung selalu menakuti seluruh manusia sehingga terkadang memang sudah suatu kebiasaan yang berulang-ulang. Mengenai bencana ini, saya tergelitik dengan pernyataan seorang para normal yang heboh diakhir tahun mengatakandsc01322 bahwa ditahun 2009 akan terjadi longsor, gempa, banjir, dll. hahaha….semua orang juga bisa menebak seperti itu dengan melihat keadaan dunia yang seperti sekarang. Yang terpenting  apakah ada jawaban semuanya ini?. Karena semua masalah ini tercipta dari banyak sekali variable, maka jawabannya juga dengan banyak variable. Semuanya ini tidak bisa saling menyalahkan dan tidak bisa di jawab oleh sebagian orang saja tapi semua manusia harus menjawab yang sama dan bekerja bersama-sama, yaitu mengurangi penyebab-penyebab terjadinya dan mempelajari atau mengambil hikmah yang semua terjadi untuk mendapatkan sebuah jawaban yang baik untuk awal tahun ini dan di masa yang akan datang.

Emisi karbon dari pembakaran bahan bakar konvensional merupakan salah satu variable dari banyak sekali variable yang memiliki andil cukup besar terhadap perubahan lingkungan (climate change). Bahan bakar unrenewable merupakan salah satu sumber penyumbang karbon terbesar di dunia. Lihat saja seberapa minyak mentah yang dihasilkan di dunia ini dalam sehari, semua bahan bakar ini, sedikit maupun banyak pasti akan menghasilkan emisi karbon. Untuk menjawab tantangan diatas, kita harus sepakat dan mempunyai jawaban yang sama, yaitu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

Memang tidak bisa dipungkiri, emisi suatu hasil proses pembakaran memang tidak bisa dihilangkan, hanya bisa dikurangi. Setidaknya jika bisa yang dapat dilakukan hanyalah menuju keseimbangan. Dimana semua emisi yang dihasilkan diseluruh muka bumi ini, bisa diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Dalam artian, jika kondisi ideal adalah emisi yang dihasilkan sama dengan kemampuan tumbuh-tumbuhan menyerap emisi tersebut. Untuk mendapatkan itu, memang bukan pekerjaan mudah dan  bisa dibilang sulit sekali bisa tercapai, hanya bisa dilakukan adalah berusaha memperbaiki keadaan yang selama ini terjadi. Program yang diterapkan pemerintah, untuk menanam pohon kembali atau penghutanan kembali (reforestry) sangat tepat, keberadaan tumbuh-tubuhan sangat dibutuhkan dalam rangka menuju keseimbangan tersebut.

Pengembangan bahan bakar alternatif (biodiesel) memiliki kelemahan juga, untuk mendapatkan biodiesel tersebut, butuh mengorbankan lahan guna membudidayakan tanaman penghasil biodiesel. Jika yang digunakan adalah lahan/hutan yang masih baik, berarti bertentang dengan tujuan awal. Mengkonversi hutan berarti telah mengurangi sebagain porsi tanaman hutan yang andil untuk menyerap karbon yang ada di bumi ini. Bagaimana jika lahan yang digunakan merupakan lahan yang kritis?. Mungkin ini merupakan salah satu jawabannya, walaupun memiliki kelemahan juga, karena akan timbul pertanyaan lagi. Apa mungkin tanaman penghasil biodiesel bisa tumbuh di lahan kritis?. Jawabannya harus yakin tanaman penghasil biodiesel akan tumbuh dengan baik, mengingat perkembangan teknologi pertanian yang sangat baik sekarang. Teknologi pertanian ini bisa menjawab pertanyaan yang terakhir ini, tentunya teknologi yang tepat dan baik untuk diterapkan di tempat bersangkutan.

cloud130604-01Apa yang bisa dilakukan di masa yang akan datang?. Ini merupakan tugas bersama-sama manusia di muka bumi ini. Bagaimana dengan action-nya di Negara kita?. Apakah program pengurangan emisi (gas rumah kaca) akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Negara (seperti yang ditakutkan beberapa Negara maju)?. Jawabannya tentulah tidak, jika semua kebijakan dilakukan secara seimbang dan berkesinambungan (sustainable). Mudah-mudahan apa yang telah dilakukan tidak hanya sesaat saja dan membuat suatu kebijakan-kebijakan baru yang lebih terintegrasi dari variable satu dengan yang lainnya. Sehingga akan menuju suatu yang dinamakan keseimbangan. (chyps)

2 responses to “Apakah Bahan Bakar Nabati Masih Mendapat Perhatian Dunia di Tengah-Tengah Merosotnya Harga Bahan Bakar Minyak Bumi?

  1. sri atetha purwanti michael agnesia

    duh……q msh bingung mau comment apa!
    tp add q yah di wadefak_you@suka-suka.com
    duh….
    jngn lupa yah…….
    jngn bosen jd temen quuuu kawand!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s